Cermin (part 1) : Kotak Sampah

"secangkir galau kuhirup pagi ini.... ditemani kue-kue rasa kesepian.. kunikmati matahari sambil mengunyah sepotong roti kesendirian hati... "

Pagi ini, seperti pagi biasanya... bersama teman-teman duduk dilantai beralaskan ambal lusuh... yang dibawahnya di alasi tikar, "kata teman ku, itu tikar yang dipinjam dari ceweknya" . disebuah kamar kos-kosan 4 x 5 meter yang sebagian lantainya sudah hancur dan berdebu... sambil bersenda gurau kuhirup susu buatan salah seorang sahabat ku yang seperti kk sendiri... sebentar-sebentar kami tertawa, menertawakan nasib sendiri dan negara ini..

Seperti 3 anak pipit kelaparan dalam satu sarang... riuh.... ditambah dengan suara mp3 player yang ku hubungkan dengan sebuah tape bekas yang tinggal berfungsi salonnya saja, itupun didapat dari minjem sama seorang abang.... & ntah kapan juga tape itu akan ku kembalikan atau diambil dengan nya... atau jangan-jangan tidak akan diambil olehnya alias dipinjamkan seumur hidup, itulah satu-satunya hiburan kami di kamar kostan selain menertawakan nasib sendiri dan negara ini....

"kulihat roti kesendirian ku masih banyak... entah harus kubagi pada siapa..."

sering kami bercerita tentang kisah kecil kami yang pahit-pahit manis... ada persamaan antara kami, seolah tuhan sengaja mengumpulkan kami untuk saling menyombongkan manis pahitnya nasib kami, tapi itu jadi benteng, benteng kami menghadapi kerasnya hidup, benteng kami untuk mempertahankan apa yang dinamakan sahabat.

"kuhirup lagi cangkir kegalauan ku.... "

kelaparan ??? tidak pernah... ya kami memang tidak pernah merasa kelaparan... bukan karena kami anak orang kaya yang selalu dikirimi pesangon bulanan dari orang tua, tapi karena kami sudah akrab dengan si lapar. seperti sudah menjadi tradisi, kadang kami sengaja bangun kesiangan, untuk melewati pagi tanpa sarapan. Pada saat matahari tepat diatas kepala, kami baru akan beranjak mencari sesuatu untuk disuapkan ke mulut kami, dan hal itu cukup untuk kami beraktivitas hingga larut malam...

"cacing mana yang mau tinggal di perut kami.... "

aku beranjak dari tempat duduk, mengambil handuk pemberian kk perempuanku, lalu mengabil tempat sabun dan lekas menuju kamar mandi, kamar mandi umum anak kos-kosan yang berjumlah 6 kamar, tapi hanya 4 kamar mandi yang terpakai, kamar mandi yang lantainya semen bercampur tanah... bak mandi yang banyak lumutnya.. dan wc yg mungkin 3 bulan sekali disikat,... ah pakai-pakai saja, peduli amat dengan penyakit....

kemudian aku bergegas menuju sebuah warnet, warnet yang telah kujaga sejak aku kuliah hingga aku selesai wisuda... dari warnet inilah, kami menghidupi cacing-cacing diperut kami... itupun kalau kami cacingan, tapi sepertinya cacingpun tidak mau tinggal diperut kami... "perut yang jarang terisi makanan... "

"kulewati sebuah pohon rindang.... kuhirup udara kesunyian... "

sudah hampir 3 tahun aku menjaga warnet ini, warnet ini memiliki 22 bilik, namun kadang ada beberapa bilik tidak bisa terpakai, entah itu karena virus, trobel system atau blue screen... tingi bilik kom sekitar 1,5 meter... cukup tinggi.. dan lumayan luas.... keadaan ini lah yang sering dijadikan kalangan muda mudi bernafsu setan berbuat mesum... terutama di bilik nomor 11, tempatnya di ujung dan strategis, walaupun aroma tidak sedap karena dekat dengan toilet... terkadang aku merasa aneh... aneh dengan mereka yang tetap jojong melakukan hal-hal demikian, tapi satu hal yang aku pelajari adalah, setiap pasangan dari mereka adalah orang yang memiliki kemampuan, ya kemampuan menahan rasa malu...

jujur, kadang aku iri dengan mereka yang berpasang-pasangan,... karena aku slalu minder untuk mendekati wanita... dalam benakku "siapa juga yang mau dengan seorang OP warnet yang hidup tidak karuan... tanpa kendaraan, tanpa gaya, tanpa pergaulan.... " tapi ya sudah lah... "hati ku hanya wacana yang tidak pernah dibaca orang lain..."

"8:30 sampai 22:30 kehidupan ....."

begitu banyak rupa wanita yang kutemui antara pukul 8:30 - 22:30, begitupun dengan tingkah perbuatannya yang lebih banyak lagi... hal yang sering kujumpai diwarnet ini, ada yang begitu cantik rupawan, ada pula yang sangat jelek... tapi aku tidak peduli, toh mereka tidak akan tertarik kepadaku... walaupun beberapa dari mereka membuat ku tertarik... tapi cepat-cepat rasa itu ku usir dari hati... "hussss..... aku tak mungkin mendekatinya, apalagi memilikinya.... "

pernah kutemukan cinta beberapa kali di warnet ini, dan cinta itu berbalas... tapi takkan bertahan lama... entah kenapa, tapi yang jelas aku tidak bisa menyalahkan keadaan... "ini sudah jalan nasib ku, dan aku bersyukur...." atau dengan alasan lain yang sering kubuat-buat "hati manusia siapa yang tahu..... "

"kotak sampah warna hijau disamping meja..."

kunikmati beberapa roti goreng dari sebelah warnet tanpa air minum, aku melihat kesamping... tepat disana ada kotak sampah warna hijau... lalu aku bergumam, betapa besar jasa kotak sampah itu,,, dia mau menampung semua barang buangan manusia, barang yang dianggap tidak berarti... dia akan menyimpan setiap kotor dan usangnya sampah... sampah yang sering di injak-injak dan dihina oleh manusia... "mungkin aku harus menemukan kotak sampah ku sendiri... "

"mungkin aku harus menemukan kotak sampah ku sendiri... "

"kawan, jangan pernah menyerah... lawanlah rasa iri hati mu...."